Minggu, 25 Februari 2018

AL-QUR’AN KITAB SUCI YANG PENUH BERKAH


BAB I
PENDAHULUAN


A.           Latar Belakang
Karya tulis (paper) yang berjudul “AL-QUR’AN KITAB SUCI YANG PENUH BERKAH” ini disusun dan ditulis berdasarkan pengamatan, pengetahuan dan penelitian, karena banyak dari kaum muslimin yang masih kurang peduli terhadap Al-Qur’an bawaan mengabaikannya. Padahal Al-Qur’an bukan hanya untuk dibaca tetapi lebih utama lagi jika kita renungkan apa yang terdapat dalam Al-Qur’an, lebih-lebih mengamalkannya, sebab didalam Al-Qur’an terdapat keistimewaan yang tidak dapat ditandingi oleh apapun karena Al-Qur’an bersumber langsung dari Allah SWT.
Bukan hanya itu, didalam Al-Qur’an juga terdapat banyak keberkahan yang baik dan bermanfaat dalam kehidupan sehari-hari,  salah satunya yang dapat kita ambil dari keberkahan Al-Qur’an adalah keberkahan kebaikan yaitu berupa rezeki, rasa aman, dan keselamatan dari penyakit fisik maupun hati.
Karena itulah penulis berharap dengan adanya karya tulis ini kita semua bisa lebih memahami tentang keberkahan yang dapat di rasakan oleh kita dalam kehidupan sehari-hari.

B.            Pembatasan dan Perumusan Masalah
Sehubungan dengan makna dan isi kandungan Al-Qur’an, maka penulis membatasi pembatasan dan merumuskan masalah sebagai berikut :
1.    Apa keberkahan yang terdapat dalam Al-Qur’an ?
2.    Apa yang dimaksud dengan berkah ?
3.    Apa mu’jizat yang terdapat dalam Al-Qur’an ?

C.           Tujuan Penulisan
Penulis memilih judul ini dengan tujuan sebagai berikut :
1.   
1
Mengetahui apa keberkahan yang terdapat dalam Al-Qur’an
2.    Mengetahui arti atau definisi kata berkah
3.    Meningkatkan kepercayaan terhadap mu’jizat Al-Qur’an
4.    Menambah wawasan dan pengetahuan di bidang ilmiah dan melatih diri agar terbiasa menulis karya ilmiah untuk masa yang akan dating.

D.           Teknik Penulisan
Adapun metode penulisan yang digunakan dalam karya tulis ini adalah metode deskriptif analis atau pemaparan, agar mudah pembaca memahaminya dan untuk mempermudah penulis memaparkannya.

E.            Sistematika Penulisan
Karya tulis yang di tulis oleh penulis terdiri dari empat bab agar penulis mudah memaparkan pemahaman dan pembaca mudah untuk mencermati dan memahami karya tulis ini. Adapun karya tulis ini terdiri dari beberapa bab yaitu sebagai berikut :
BAB I             : PENDAHULUAN
Bab ini memaparkan tentang latar belakang, pembatasan dan perumusan masalah, tujuan penulisan, metode penulisan dan sistematika penulisan.
BAB II                        : AL-QUR’AN SUCI YANG PENUH BERKAH
Bab ini adalah awal pembahasan, pembahasan yang pertama adalah mengenai definisi atau pengertian Al-Qur’an, pendapat-pendapat mengenai istilah berkah menurut Al-Qur’an dan hadits dan mu’jizat yang terdapat dalam Al-Qur’an.
BAB III          : AL-QUR’AN MENJADIKAN HIDUP LEBIH BERKAH
Bab ini memaparkan dan menjelaskan makna tentang Al-Qur’an kitab yang membawa kebenaran, Al-Qur’an sebagai pembeda dan petunjuk, Al-Qur’an sebagai cahaya kehidupan, dan Al-Qur’an merupakan penyembuh hati.
BAB IV          : PENUTUP
Bab ini merupakan bab paling akhir, didalamnya terdapat kesimpulan dan saran-saran untuk pembaca sebagai sugesti meningkatkan pengetahuan dan penghayatan terhadap Al-Qur’an.
DAFTAR PUSTAKA



BAB II
AL-QUR’AN KITAB SUCI YANG PENUH BERKAH


A.           Definisi dan Pengertian Al-Qur’an
Al-Qur’an adalah kalamullah yang diturunkan kepada Nabi terakhir Muhammad SAW, melalui perantara malaikat jibril.[1]
Al-Qur’an adalah kitab suci umat islam, ia dapat disebut atau dinamakan Al-Qur’an secara harfi berarti bacaan atau himpunan karena merupakan kitab yang wajib dibaca dan dipelajari dan merupakan himpunan dari ajaran-ajaran wahyu yang terbaik.[2]
Sebagai kitab suci Al-Qur’an adalah kitab yang berisi petunjuk tentang berbagai aspek kehidupan manusia, baik secara individu maupun kolektif dan pesan-pesan ilahi untuk umat manusia yang disampaikan melalui Nabi Muhammad SAW yang didalamnya terdapat berbagai ilmu untuk kebahagiaan dunia dan kebahagiaan akhirat.
Kata Al-Qur’an secara harfiah berasal dari kata qara’a yang berarti membaca atau mengumpulkan dan secara terminologi, Al-Qur’an berarti kalam Allah SWT yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW melalui malaikat jibril, sampai kepada kita secara mutawatir.[3]
وَهَذَا كِتَابٌ أَنزَلْنَاهُ مُبَارَكٌ فَاتَّبِعُوهُ وَاتَّقُوا لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ (الأنعام : 155 )
“Dan Al-Qur’an ini adalah kitab yang kami turunkan yang diberkahi maka ikutilah dan bertaqwalah agar kamu diberi rahmat” (Qs. Al-An’am : 155)
4
Dari ayat diatas dijelaskan bahwa Al-Qur’an adalah kitab kumpulan wahyu yang diturunkan kepada Rasulullah SAW untuk diajarkan kepada umatnya yang di dalamnya terdapat berkah dan memberi keberkahan bagi setiap orang yang mempelajari serta mengamalkannya.
Al-Qayyim berpendapat bahwa Al-Qur’an lebih berhak menyandang nama “mubarak” yang artinya sesuatu yang di berkahi dari pada nama lain, karena berlimpahnya kebaikan dan manfaatnya serta aspek-aspek keberkahan didalamnya.[4]
Syeikh Manna Khail Qathan dalam bukunya mabahits fi ulumil qur’an menjelaskan bahwa istilah qur’an berasal dari kata qara’a yang berarti mengumpulkan atau mengimpun, kata Al-Qur’an juga mengandung arti yang sama dengan qira’ah yaitu menghimpun huruf atau kata yang satu dengan lain dalam suatu ucapan yang tersusun rapi.[5]
Menurut Gibbon, seorang ahli sejarah ternama berkata : Al-Qur’an adalah satu kitab agama, kitab kemajuan, kenegaraan, persaudaraan,kemahkamahan dan undang-undang ketentraman dalam islam dan Al-Qur’an juga mengandung segala perkara mulai dari masalah ibadah sampai pekerjaan sehari-hari, dari masalah dunia sampai masalah akhirat semuanya telah diterangkan secara jelas dalam Al-Qur’an.[6]
Dari pendapat-pendapat di atas, dapat di simpulkan bahwa Al-Qur’an adalah kitab suci umat islam yang diturunkan melalui Nabi Muhammad yang memiliki banyak keberkahan dan manfaat, dan Al-Qur’an bukan hanya untuk dibaca melainkan di pelajari dan di amalkan dan Al-Qur’an juga berisi tentang masalah-masalah yang ada didunia dan akhirat serta larangan-larangan dan kewajiban-kewajiban yang harus diketahui oleh umat muslim agar hidup kita bahagia dunia dan akhirat.

B.            Istilah Berkah Menurut Al-Qur’an dan Hadits
a.    Istilah berkah menurut Al-Qur’an
Istilah berkah atau barakah hanya di jumpai dalam Al-Qur’an, kata berkah hampir dapat di simpulkan menjadi tiga pengertian bahwa berkah atau barakah mengandung makna tetap dan langgengnya kebaikan serta banyak dan bertambahnya kebaikan.
Berkah yang bermakna tetap dan langgengnya kebaikan sejalan dengan surat Al-A’raaf ayat 96 :
لَفَتَحْنَا عَلَيْهِم بَرَكَاتٍ مِّنَ السَّمَآءِ وَاْلأَرْضِ (الأعراف : 96 )
“Pastilah kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi”. (Qs. Al-A’raaf : 96)
Ar- Raqhib Al-Ashfahani menafsirkan ayat tersebut sebagai berikut “Al-Barakah adalah tetapnya kebaikan Ilahi pada sesuatu disebut demikian karena melakatnya kebaikan didalamnya seperti hal air yang selalu berada didalam sumur”.
Sementara itu mufasirin lainnya yaitu Al-Khazin ra, memaknai ayat tersebut demikian “Keberkahan langit yang dimaksudkan dalam ayat tersebut adalah turunnya air hujan, sedangkan keberkahan bumi adalah tanaman yang memberikan buah-buahan, serta segala yang terdapat didalamnya berupa kebaikan”.[7]
Lafat barakah juga tersebut dalam Al-Qur’an dengan ayat berikut :
#x»ydur ֍ø.ÏŒ î8u$t6B çm»oYø9tRr& 
“Dan Al-Qur’an ini adalah suatu kitab (peringatan) yang mempunyai berkah yang telah kami turunkan”.(Qs. Al-Anbiya :50)
Menurut As-Syingithi bahwa karena di dalam Al-Qur’an menyimpan banyak keberkahan yang artinya menyimpan kebaikan di dunia dan akhirat.
Jadi dapat disimpulkan bahwa berkah atau barakah adalah segala sesuatu yang menyimpan suatu kebaikan untuk berkah karena hujan menyimpan suatu kebaikan untuk sebuah tanaman, karena tanaman dapat tumbuh dikarenakan keberkahan dari langit salah satunya berupa hujan atau air.
b.    Istilah berkah menurut hadits
Istilah berkah dan istilah-istilah yang mendekatinya banyak disebut dalam hadits Nabi Muhammad SAW. Bahkan jumlahnya mencapai ratusan, seperti kata “Tabaaroka” yang bermaksud mengagungkan dan menyucikan Allah SWT.
Lafat berkah atau barakah didalam hadits Rasulullah SAW memiliki makna yang sama dengan yang terdapat didalam Al-Qur’an yakni bermakna tetap dan berkesinambungan kebaikan atau melimpah dan bertambahnya kebaikan atau bisa juga kedua-duanya secara bersama.
وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَلِ مُحَمَّدٍ
“Dan berkahilah Muhammad dan keluarganya”.
Ibnu Atsir berpendapat bahwa maksud kalimat “wabarik” atas penggalan hadits tersebut mengandung makna tetapkanlah dan langgengkanlah kehormatan dan kemuliaan yang telah engkau berikan kepada Nabi Muhammad SAW.
Al-Qayyim mengatakan bahwa penggalan hadits tersebut merupakan doa yang meliputi kebaikan yang diberikan kepada keluarga Nabi Ibrahim, tetap serta berlipat ganda dan kebaikannya selalu bertambah.[8]
Dan masing-masing pendapat dan pengertian di atas, maka dapat di sederhanakan bahwa yang dimaksud barakah atau berkah adalah keadaan terhadap sesuatu yang tetap atau tidak berkurang dan tidak bertambah kebaikannya. Jika rizki itu berkah maka tidak akan berkurang melainkan terus bertambah secara langgeng dan di dalamnya menyimpan kebaikan.



C.           Mu’jizat Al-Qur’an
Al-Qur’an adalah mu’jizat yang terbesar yang dimiliki oleh Rasulullah SAW, Al-Qur’an sebagai dasar dalam menyampaikan kebenaran kenabian dan ajarannya.
Mu’jizat secara etimologis berarti melemahkan, sedangkan menurut terminologi ialah suatu yang luar biasa yang di perlihatkan Allah SWT melalui Nabi dan Rasul-Nya sebagai bukti atas kebenaran pengakuan kenabiannya dan kerasululannya.
Sesungguhnya Al-Qur’an itu mu’jizat dari segi lafat, susunan, kalimatnya, sastranya, isyarat lafat terhadap makna, makna-makna yang menjadi perintah dan berita tentang Allah SWT, nama-nama dan sifat-sifat-Nya, malaikat-malaikat-Nya dan lain sebagainya, meskipun bangsa Arab saat itu banyak yang menjadi ahli bahasa dan sastra, namun tidak mampu menandingi keindahan kalimat Al-Qur’an.
عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ : قَالَ النَّبِيُّ : مَامِنَ اْلأَ نْبِيَاءِ نَبِيُّ إِلاَّ أُعْطِيَ مَامِثْلُهُ آمَنَ عَلَيْهِ الْبَشَرُ وَإِنَّهَا كاَنَ اَّلذِى أُوْتِيْتُ وَحْيًا أَوْ حَاهُ اللهُ إِلَيَّ فَأَرْجُوْهُ اَنْ أَكُوْنَ أَكْثَرَ هُمْ تَابِعًا يَوْمَ اْلقِيَامَةِ .
Dari Abu hurairah ra, bahwasannya Nabi SAW bersabda  :
“Tak seorang pun Nabi yang diutus kecuali telah diberi sesuatu yang semisalnya umat manusia beriman, hanya saja yang diberikan kepadaku adalah wahyu yang telah Allah SWT wahyukan kepadaku, maka aku berharap semoga aku menjadi nabi yang paling banyak pengikutnya pada hari kiamat”. (HR. Bukhari)
Tentang hadits ini, Ibnu Katsir berpendapat, “Didalam riwayat tersebut disebutkan keutamaan yang besar bagi Al-Qur’an dibandingkan dengan semua mu’jizat yang diberikan kepada setiap Nabi dan kitab yang telah diturunkan”.
 Adapun makan hadits itu adalah tidak seorang Nabi pun melainkan mereka di beri mu’jizat yang di imani oleh umat manusia, yang menjadi dasar atas kebenaran yang disampaikan dan dia di ikuti oleh umatnya, kemudian ketika para Nabi telah meninggal dunia tidak ada satu pun mu’jizat mereka yang tersisa, kecuali yang dikisahkan oleh para pengikutnya berdasarkan apa yang mereka saksikan pada masanya.[9]
Adapun Rasul yang menjadi penutup risalah yaitu Muhammad SAW, seluruh yang Allah SWT berikan kepadanya adalah wahyu yang berasal darinya yang di sampaikan kepada umat manusia secara mutawatir.
Maka kemu’jizatan Al-Qur’an antara lain :
1.    Bahasanya yang indah yang tak ada seorang pun dapat menandinginya
2.    Berisi tentang Allah SWT, nama-nama, sifat-sifat dan makhluknya
3.    Sebagai undang-undang yang sempurna melebihi undang-undang yang dibuat oleh manusia.
4.    Memenuhi kebutuhan manusia
5.    Membahas ilmu agama dan umum
6.    Menggambarkan hal-hal yang tidak diketahui oleh manusia
7.    Tidak bertentangan dengan pengetahuan umum yang telah dipastikan kebenarannya.



BAB III
AL-QURA’AN MENJADIKAN HIDUP LEBIH BERKAH


A.           Al-Qur’an Kitab Yang Membawa Kebenaran
Kita di sarankan untuk mencari berkah dari Al-Qur’an, karena Al-Qur’an adalah wahyu ilahi yang di dalamnya terdapat banyak kebaikan, dan Al-Qur’an merupakan kitab yang membawa kebenaran. Dengan mempelajari  Al-Qur’an kita bisa menempuh jalan kebenaran dan yang pasti jalan kebenaran itu tentu memberkahi kehidupan kita di dunia dan akhirat.[10]
Dalam Al-Qur’an surat Al-Isra ayat 103 dikatakan :
Èd,ptø:$$Î/ur çm»oYø9tRr& Èd,ptø:$$Î/ur tAttR
“Dan kami menurunkan Al-Qur’an dengan sebenar-benarnya dan Al-Qur’an itu telah dengan membawa kebenaran”.
10
Al-Qur’an itu bukanlah cerita yang di buat-buat atau di rekayasa karena Al-Qur’an bukanlah perkataan yang mengada-ngada, bukan hasil penyair, bukan jampe-jampe tukang sihir dan bukan juga jampe-jampe para dukun, Al-Qur’an adalah kalamullah yang berisi kebenaran serta memberikan petunjuk tentang kehidupan yang baik, maka orang-orang yang suka mengada-ngada atau merekayasa cerita adalah manusia yang tidak mendapatkan keberkahan dan pertolongan seperti pendusta yang menguji-nguji kebathilan dan para dukun yang mengaku mengetahui hal-hal ghaib yang akan terjadi, padahal semua itu di jadikannya sebagai media untuk mengumpulkan harta.
ö@è% $pkšr'¯»tƒ â¨$¨Z9$# ôs% ãNà2uä!%y` ,ysø9$# `ÏB öNä3În/§ ( Ç`yJsù 3ytF÷d$# $yJ¯RÎ*sù ÏtGöku ¾ÏmÅ¡øÿuZÏ9 ( `tBur ¨@|Ê $yJ¯RÎ*sù @ÅÒtƒ $pköŽn=tæ ( !$tBur O$tRr& Nä3øn=tæ 9@Å2uqÎ/ ÇÊÉÑÈ    
“Katakanlah wahai manusia, sesungguhnya telah datang kepada kalian kebenaran (Al-Qur’an) dari Rabb-Nya, sebab itu, barang siapa yang mendapat petunjuk maka sesungguhnya petunjuk itu untuk kebaikan dirinya sendiri. Dan barang siapa yang sesat maka sesungguhnya kesesatan itu mencelakakan dirinya sendiri, dan aku bukanlah seorang penjaga terhadap dirimu”.(Qs. Yunus : 108)
Dalam Al-Qur’an banyak ditemukan berita-berita yang menggembirakan atau menyenangkan hati yang membuat orang tertarik kepada kebenaran. Demikian pula berita yang sangat memilukan hak yang membuat orang membenci kejahatan dan kemaksiatan dan balasan bagi orang-orang yang berbuat kebaikan dan keburukan.[11]
Jadi dapat disimpulkan bahwa Al-Qur’an bukanlah rekayasa, Al-Qur’an adalah suara Allah SWT yang mempunyai keberkahan yang dapat membuat hidup orang yang mempelajari, mengamalkan dan menyakini lebih baik, karena Al-Qur’an adalah suatu kebenaran yang datangnya dari Allah SWT melalui Nabi Muhammad SAW.

B.            Al-Qur’an Sebagai Pembeda dan Petunjuk
Al-Qur’an menyimpan dan memberikan keberkahan kepada orang yang mempelajarinya, salah satu alasannya adalah karena Al-Qur’an sebagai pembeda antara yang haq dan yang bathil, antara yang halal dan yang haram, orang yang memahami dan mempelajari Al-Qur’an mengetahui tentang sesuatu yang bathil dan sesuatu yang haram itu merugikan dan mencelakakan dirinya sendiri dan Al-Qur’an juga menunjukkan tentang nilai-nilai kebenaran dan sesuatu yang halal, yang mana hal tersebut jika di terapkan akan menguntungkan bagi dirinya sendiri.[12]
Al-Qur’an sebagai pembeda di jelaskan dalam ayat 185 surat Al- Baqarah sebagai berikut :
ãöky­ tb$ŸÒtBu üÏ%©!$# tAÌRé& ÏmŠÏù ãb#uäöà)ø9$# Wèd Ĩ$¨Y=Ïj9 ;M»oYÉit/ur z`ÏiB 3yßgø9$# Èb$s%öàÿø9$#ur 4 `yJsù yÍky­ ãNä3YÏB tök¤9$# çmôJÝÁuŠù=sù ( `tBur tb$Ÿ2 $³ÒƒÍsD ÷rr& 4n?tã 9xÿy ×o£Ïèsù ô`ÏiB BQ$­ƒr& tyzé& 3 ߃̍ムª!$# ãNà6Î/ tó¡ãŠø9$# Ÿwur ߃̍ムãNà6Î/ uŽô£ãèø9$# (#qè=ÏJò6çGÏ9ur no£Ïèø9$# (#rçŽÉi9x6çGÏ9ur ©!$# 4n?tã $tB öNä31yyd öNà6¯=yès9ur šcrãä3ô±n@ ÇÊÑÎÈ  
“(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya di turunkan (permulaan) Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil). karena itu, Barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, Maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu, dan Barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), Maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang di tinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur”.(Qs. Al-Baqarah : 185)
Dalan surat lain dikatakan :
x8u$t6s? Ï%©!$# tA¨tR tb$s%öàÿø9$# 4n?tã ¾ÍnÏö6tã tbqä3uÏ9 šúüÏJn=»yèù=Ï9 #·ƒÉtR ÇÊÈ  
“Maha suci Allah SWT yang telah menurunkan Al-Furqon (pembeda) kepada hamba-Nya, agar ia menjadi pemberi peringatan kepada seluruh alam”.(Qs. Al-Furqon : 1)
Selain itu, Al-Qur’an juga merupakan sebuah petunjuk yang mengantarkan kepada semua kebaikan dan kebahagiaan dunia dan akhirat, karena inilah Al-Qur’an menyimpan berkah dan memberkahi kepada orang yang mau mempelajari dan memahami Al-Qur’an dan isinya.
Al-Qur’an sebagai petunjuk di jelaskan dalam surat At-Taubah ayat 33 yang berbunyi :
uqèd üÏ%©!$# Ÿ@yör& ¼ã&s!qßu 3yßgø9$$Î/ ÈûïÏŠur Èd,ysø9$# ¼çntÎgôàãÏ9 n?tã Ç`ƒÏe$!$# ¾Ï&Íj#à2 öqs9ur on̍Ÿ2 šcqä.ÎŽô³ßJø9$# ÇÌÌÈ  
“Dialah yang telah mengutus Rasul-Nya dengan membawa petunjuk (Al-Qur’an) dan agama yang benar untuk menangkapkannya atas segala agama, walaupun orang-orang musyrik tidak menyukai”.(Qs. At-Taubah : 33)
Dapat di simpulkan bahwa Al-Qur’an sebagai pembeda antara yang benar dengan yang salah, antara yang haq dan yang batil, antara kesesatan dengan petunjuk dan antara jalan yang menuju keselamatan dengan jalan menuju kesengsaraan. Dan sebagai petunjuk bagi kita umum menuju kepada kebaikan agar kita tidak tersesat dan terjerumus kepada hal-hal yang dapat merugikan diri kita sendiri.
Barang siapa yang berpegang teguh mempelajari dan mengamalkan Al-Qur’an, maka ia akan mendapat petunjuk dan rahmatnya berupa mengetahui pembedaan antara yang baik dan yang buruk untuk dirinya sendiri, karena petunjuk dan rahmat merupakan keberkahan yang agung yang tidak semua orang mendapatkannya, kecuali mereka yang telah bersungguh-sungguh mempelajari dan mengamalkan Al-Qur’an.

C.           Al-Qur’an Sebagai Cahaya Kehidupan
Al-Qur’an adalah cahaya dalam kehidupan manusia, sehingga ia dapat berjalan dengan lentera yang dapat menyelamatkannya dari jurang kebinasaan.
Allah SWT berfirman dalam surat Al-Anaam ayat 122 :
`tBurr& tb%x. $\GøŠtB çm»oY÷uŠômr'sù $oYù=yèy_ur ¼çms9 #YqçR ÓÅ´ôJtƒ ¾ÏmÎ/ Îû Ĩ$¨Y9$# `yJx. ¼ã&é#sW¨B Îû ÏM»yJè=à9$# }§øŠs9 8lÍ$sƒ¿2 $pk÷]ÏiB
“Dan apakah orang-orang yang sudah mati hatinya kemudian kami hidupkan ia dan kami berikan kepadanya   cahaya yang terang yang dengan cahaya itu dia dapat berjalan di tengah-tengah masyarakat manusia. Serupa dengan orang yang keadaannya berada dalam gelap gulita yang sama sekali tidak dapat keluar darinya”.(Qs. Al-An‘am : 122)
Ibnu Qayyim berkata, “Allah SWT mengumpulkan untuknya cahaya dan kehidupan sebagaimana mengumpulkan untuk orang yang berpaling dari kitabnya, kematian dan kegelapan”,  Ibnu Abbas dan seluruh ahli tafsir berkata, “Sebelumnya ia kafir dan sesat, lalu kami memberinya hidayah”.[13]
Adapun firman Allah SWT yang berbunyi : “Dan kami berikan kepadanya cahaya yang terang yang dengan cahaya itu dapat ia berjalan di tengah-tengah masyarakat manusia”. Mengandung beberapa perkara, yaitu sebagai berikut :
1.    Ia berjalan di tengah-tengah masyarakat manusia dengan cahaya, sementara mereka berada dalam kegelapan. Perumpamaan dirinya dengan mereka seperti suatu kaum yang berada dalam kegelapan malam sehingga mereka tersesat dan tidak mendapatkan jalan yang benar. Adapun yang lainnya mempunyai cahaya yang ia berjalan dengannya dijalan yang benar dan ia dapat melihat jalan tersebut, serta melihat apa yang harus dijauhi didalamnya.
2.    Ia berjalan di tengah-tengah mereka dengan cahaya dan mereka mengambil cahaya darinya karena mereka sangat membutuhkan cahaya.
3.    Ia berjalan dengan cahayanya pada hari kiamat di atas shirath ketika ahli syirik dan munafik berada didalam kegelapan syirik dan kemunafikan mereka.[14]
Dapat di simpulkan bahwa Al-Qur’an adalah sumber cahaya bagi kehidupan kita didunia dan diakhirat. Di dunia cahaya dari keberkahan Al-Qur’an dapat membantu kita agar hidup kita selalu tentram, damai dan tidak terjerumus kepada jurang kegelapan seperti syirik dan kemunafikan. Sedangkan di akhirat cahaya dari keberkahan Al-Qur’an akan membantu kita untuk melihat dan berjalan menuju jalan yang telah Allah SWT arahkan, karena di akhirat tidak ada satu titik pun cahaya yang dapat menerangi jalan kita kecuali mereka yang senantiasa mengamalkan dan mempelajari Al-Qur’an, dengan itu hidup kita akan selalu terang dan kita tidak akan terjerumus kepada hal-hal yang telah Allah SWT larang dan haramkan.

D.           Al-Qur’an Sebagai Penyembuh Hati
Al-Qayyim berkata : seluruh penyakit hati bermuara pada syubhat dan syahwat dan Al-Qur’an merupakan obat bagi kedua jenis penyakit tersebut, karena di dalam Al-Qur’an terdapat berbagai penjelasan dan bukti nyata yang membedakan kebenaran dan kebathilan, sehingga hilanglah penyakit-penyakit syubhat yang merusak ilmu, imajinasi dan persepsi, sehingga hati bisa melihat segala sesuatu sebagaimana hakikat yang sebenarnya.[15]
Allah SWT telah mengabarkan bahwa Al-Qur’an adalah obat atau penyembuh dalam firmannya :
$pkšr'¯»tƒ â¨$¨Z9$# ôs% Nä3ø?uä!$y_ ×psàÏãöq¨B `ÏiB öNà6În/§ Öä!$xÿÏ©ur $yJÏj9 Îû ÍrߐÁ9$# Yèdur ×puH÷quur tûüÏYÏB÷sßJù=Ïj9 ÇÎÐÈ  
"Hai manusia, Sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari Tuhanmu dan penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang berada) dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman". )Qs. Yunus : 57)
Syaikh Abdurahman bin Nashir As-Sadi berkata : “Al-Qur’an adalah penyembuh apa yang ada di dada dari penyakit syahwat yang mencegahnya untuk tunduk kepada syari’at dan dari penyakit subhat yang merusak ilmu keyakinan”. Hal tersebut di karenakan dalam Al-Qur’an sesungguhnya terdapat pelajaran, janji dan ancaman yang mengharuskan ia berharap dan takut.[16]
Al-Qur’an adalah obat yang hakiki dari semua penyakit syubhat dan keraguan, tetapi hal tersebut tergantung kepada pemahaman dan pengetahuan tentang apa yang diinginkan oleh Al-Qur’an.
Al-Qur’an berfungsi sebagai obat bagi penyakit syahwat, karena Al-Qur’an mengandung hikmah, nasehat yang baik berupa anjuran dan ancaman, ajakan zuhud terhadap kenikmatan dunia dan senang terhadap  akhirat, oleh karena itu, apabila hati yang selamat itu melihatnya, maka ia akan bergerak menuju apa yang bermanfaat didunia dan akhiratnya dan menjauhi segala perkara yang berbahaya untuknya sehingga ia menyukai petunjuk dan membenci kesesatan.
Al-Qur’an akan menghilangkan penyakit-penyakit yang menimbulkan keinginan-keinginan yang rusak, sehingga menjadi lurus dan keinginannya pun menjadi lurus., ia kembali kepada fitrahnya, sehingga menjadi lurus perbuatannya. Hati pun mendapatkan gizi dan iman dan Al-Qur’an yang dapat mensucikan dan menguatkannya, memberikan kegembiraan, kebahagiaan dan semangat serta mengkokohkan kerjaannya.[17]
Penyembuh Al-Qur’an diarahkan terhadap hati karena hati adalah sumber segala perbuatan manusia, baik perbuatan jahat ataupun perbuatan baik, penyakit yang sedang menimpa pribadi dan masyarakat berasal dari hati yang sakit, penyakit hati itu adalah kesombongan, keangkuhan, mencintai dunia dan jabatan yang sangat berlebihan, riya, dengki dan lain sebagainya.
Penyakit-penyakit inilah yang melahirkan perampokan, korupsi dan lain sebagainya, karena itu juga Al-Qur’an di turunkan untuk mengobati penyakit-penyakit tersebut.
Untuk mengobati penyakit-penyakit itu tidak hanya sekedar membaca, memanjang dan melantunkan keindahan-keindahan Al-Qur’an, akan tetapi perlu di pahami, di amalkan dan di jadikan pedoman dalam setiap langkah dalam kehidupan yang di buat baik oleh pribadi maupun pemerintah atau organisasi.
Bukan hanya itu, dalam hal menyembuhkan atau mengobati penyakit-penyakit dalam hati tersebut agar dapat melahirkan jiwa dan hati yang baik dan menimbulkan akhlak yang baik pula, Al-Qur’an dengan keberkahannya membimbing manusia melakukan beberapa hal di antaranya menuntut ilmu.
Banyak ayat Al-Qur’an yang mendorong manusia agar menuntut ilmu agar dapat membentuk jiwa manusia menjadi sehat, baik secara empiris maupun penalaran, bahkan Al-Qur’an memberikan penghargaan kepada orang-orang yang berilmu.
Akan tetapi, belajar dalam Al-Qur’an bukanlah semata-mata penguasaan kognitif, yang terpenting bagi Al-Qur’an arti kesadaran diri sebagai makhluk Allah SWT atau bersikap sesuai dengan kebenaran dan keadilan.
Ilmu yang diperoleh dapat mempengaruhi keadaan jiwa atau mengubahnya, karena begitu eratnya kaitan ilmu dengan prilaku, maka Al-Qur’an menafikan kesamaan orang yang berilmu dengan orang yang tidak berilmu, maka pengetahuan atau ilmu yang baik dapat melahirkan prilaku yang baik jika hati kita pun baik.
Dan yang digunakan Al-Qur’an agar membuat hati manusia sehat adalah beribadah, banyak bentuk ibadah dalam islam di antaranya shalat, puasa dan dzikir, ibadah-ibadah ini di maksudkan bukan sekedar formalitas dan ritual rutinitas, tapi lebih jauh dari itu, Al-Qur’an menginginkan agar ibadah tersebut dapat berkesan dalam jiwa dan melahirkan prilaku mulia, itulah sebabnya perintah melaksanakan ibadah selalu beriringan dengan harapan kamu menjadi orang bertaqwa (Qs. Al-Baqarah : 21), dengan itu kita akan merasakan keberkahan-keberkahan yang terkandung dalam Al_Qur’an di kehidupan kita.
Di dalam Al-Qur’an juga terdapat nasehat-nasehat dan cara agar kita dapat menjaga indra kita dari penyakit-penyakit hati, di dalam Al-Qur’an banyak menjelaskan tentang keuntungan dan faedah jika kita mentaati nasehat-nasehat yang ada pada Al-Qur’an agar kita terhindar dari penyakit subhat dan syahwat.
Tidak ada bumi ini kitab seperti Al-Qur’an yang mengandung keterangan dan ayat-ayat mengenai permasalahan yang sangat mulia seperti tauhid, penetapan sifat, tata aturan dan hukum yang bertujuan untuk membuat hati manusia jauh dari penyakit hati. Al-Qur’an telah mencakup semua itu dari sisi yang paling sempurna dan paling dekat kepada akal, serta paling fasih penjelasannya.
Ibnu selain Al-Qur’an bisa jadi menjelaskan perkara-perkara yang benar, namun tidak bermanfaat untuk hati atau ilmu yang shahih, namun harus melalui jalan yang terjal untuk meraihnya akan tetapi manfaat yang di peroleh darinya hanyalah sedikit.




BAB IV
PENUTUP


A.           Kesimpulan
Al-Qur’an memiliki banyak keberkahan, karena itu dapat disimpulkan bahwa Al-Qur’an dapat dijadikan pegangan sebagai petunjuk hidup agar kita tidak tersesat ke jalan yang akan membawa kita kepada kegelapan karena Al-Qur’an merupakan sumber cahaya bagi kehidupan dunia dan akhirat kita. Di dunia, cahaya dari keberkahan Al-Qur’an dapat membantu kita agar hidup kita selalu tentram, damai dan tidak terjerumus kepada jurang kegelapan dunia, sedangkan diakhirat cahaya dari keberkahan Al-Qur’an dapat membantu kita untuk melihat dan berjalan menuju arah yang telah Allah SWT arahkan.
Selain keberkahan tersebut, Al-Qur’an juga sebagai pembeda antara yang benar dan yang salah, antara yang haq dan yang bathil, antara kesesatan dan petunjuk dan antara arah jalan menuju keselamatan dan arah jalan menuju kesengsaraan, Al-Qur’an juga merupakan petunjuk menuju jalan yang benar, yang telah Allah SWT ridhoi agar kita tidak tersesat.
Dan salah satu keberkahan Al-Qur’an yang lainnya adalah bahwa Al-Qur’an dapat dijadikan obat penawar bagi penyakit hati yang dapat merusak akidah dan keyakinan kita seperti kesombongan, kedengkian dan lain sebagainya. Karena Al-Qur’an mengandung hikmah, nasihat yang baik berupa anjuran dan ancaman, apabila hati yang selamat itu melihatnya, maka ia akan bergerak menuju apa yang bermanfaat dan menjauhi apa yang tidak bermanfaat.
19
Semua itu bukanlah rekayasa karena Al-Qur’an merupakan suara Allah SWT yang memiliki banyak keberkahan yang dapat membuat hidup orang yang mempelajari, mengamalkan dan meyakini lebih baik, karena Al-Qur’an datangnya dari Allah SWT dan semua yang datang atau bersumber dari Allah SWT merupakan suatu kebenaran, karena itu Al-Qur’an adalah kitab yang membawa kebenaran yang memiliki banyak keberkahan yang bermanfaat bagi hidup kita didunia dan akhirat.
B.            Saran-saran
Hidup berkah adalah dambaan setiap orang, karena keberkahan dari Allah SWT adalah sesuatu yang sangat berharga. Di dalam hidup berkah mencakup rizqi yang berkah, umur yang berkah, kesehatan yang berkah dan sebagainya. Hidup menjadi damai dan tentram lahir bathin jika kita bergelimang keberkahan.
Salah satu cara agar kita mendapatkan keberkahan tersebut adalah dengan cara berpedoman, mengamalkan dan menyakini Al-Qur’an.
Sebagai umat muslim yang berpegang teguh dengan Al-Qur’an, janganlah sekali-kali kita meremehkan dan mengabaikan kitab suci kita sendiri, se-sibuk apapun kita, cobalah kita luangkan waktu sedikit untuk kita membaca dan mempelajari Al-Qur’an agar kita bisa mendapatkan dan merasakan keberkahan dari Al-Qur’an itu.
Marilah kita selaku umat muslim, kita menuju ke jalan kebaikan dan mencari keberkahan untuk hidup kita dengan memahami apa keberkahan yang terdapat dalam Al-Qur’an yang merupakan kitab suci kita.



DAFTAR PUSTAKA



Dahlan. Aziz. Abdul., 1987. Studi Agama Islam. Jakarta : PT. Saku Jaya
Al-Qalami. Fajar. Abu. 2011. Agar Hidup Bergelimang Berkah. Mitrapress, Cet. Ke-1
Salam. Badru. Yahya. Abu.  2013. Hakikat Dan Fadhilah Tadabbur Al-Qur’an. Naashirasunnah
Yusuf. Kadar. Muhammad. 2010. Studi Al-Qur’an. Jakarta : Amzah, Cet. Ke-1
Syamsudin. 1997. Pendidikan Agama Islam. Bandung : Tiga Mutiara



[1] Drs. E Syamsudin. 1997. Pendidikan Agama Islam. Bandung : Tiga Mutiara, hal. 3
[2] Drs. Abdul Aziz Dahlan. 1987. Studi Agama Islam. Jakarta : PT. Satu Jaya, ha;. 6
[3] Dr. Kadar M. Yusuf, M.Ag. 2010. Studi Al-Qur’an. Jakarta : Amzah, hal. 1
[4] Abu Fajar Al-Qalami.2011. Agar Hidup Bergemilang Berkah. Mitrapress, hal. 12
[5] Jalaludin Al-Akbar. 2010. Keajaiban Kitab Suci Al-Qur’an. Jakarta : Data Prima Press, hal. 72
[6] Jalaludin Al-Akbar. 2010. Keajaiban Kitab Suci Al-Qur’an. Jakarta : Data Prima Press, hal. 60
[7] Abu Fajar Al-Qalami. 2011. Agar Hidup Bergelimbang Berkah. Jakarta : Mitra Press, hal. 11
[8] Abu Fajar Al-Qalami. 2011. Agar Hidup Bergelimbang Berkah. Jakarta : Mitra Press, hal. 12
[9] Abu Fajar Al-Qalami. 2010. Agar Hidup Bergelimang Berkah, Jakarta : Mitra Press, hal. 15
[10] Abu Fajar Al-Qalami. 2010. Agar Hidup Bergemilang Berkah. Jakarta : Mitra press, hal. 24
[11] Kadar M. Yusuf. 2010. Studi Al-Qur’an. Jakarta : Amzah, hal. 178
[12] Abu Fajar Al-Qalami. 2011. Agar Hidup Bergelimang Berkah, Jakarta : Mitra Press, hal. 25
[13] Abu Yahya Badru Salam, 2013, Hakikat Dan Fadhilah Tadabbur Al-Qur’an, Naashirasunnah, hal. 22
[14] Abu Yahya Badru Salam, 2013, Hakikat Dan Fadhilah Tadabbur Al-Qur’an, Naashirasunnah, hal. 23
[15] Abu Fajar Al-Qalami, 2011, Agar Hidup Bergelimang Berkah, Jakarta : Mitrapress, hal. 29
[16] Abu Yahya Badru Salam, 2013, Hakikat Dan Fadhilah Tadabbur Al-Qur’an, Naashirasunnah, hal. 10
[17] Abu Yahya Badru Salam, 2013, Hakikat Dan Fadhilah Tadabbur Al-Qur’an, Naashirasunnah, hal. 12