BAB
I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Karya
tulis (paper) yang berjudul “AL-QUR’AN KITAB SUCI YANG PENUH BERKAH” ini
disusun dan ditulis berdasarkan pengamatan, pengetahuan dan penelitian, karena
banyak dari kaum muslimin yang masih kurang peduli terhadap Al-Qur’an bawaan
mengabaikannya. Padahal Al-Qur’an bukan hanya untuk dibaca tetapi lebih utama
lagi jika kita renungkan apa yang terdapat dalam Al-Qur’an, lebih-lebih
mengamalkannya, sebab didalam Al-Qur’an terdapat keistimewaan yang tidak dapat
ditandingi oleh apapun karena Al-Qur’an bersumber langsung dari Allah SWT.
Bukan
hanya itu, didalam Al-Qur’an juga terdapat banyak keberkahan yang baik dan
bermanfaat dalam kehidupan sehari-hari,
salah satunya yang dapat kita ambil dari keberkahan Al-Qur’an adalah
keberkahan kebaikan yaitu berupa rezeki, rasa aman, dan keselamatan dari
penyakit fisik maupun hati.
Karena
itulah penulis berharap dengan adanya karya tulis ini kita semua bisa lebih
memahami tentang keberkahan yang dapat di rasakan oleh kita dalam kehidupan
sehari-hari.
B.
Pembatasan dan Perumusan Masalah
Sehubungan
dengan makna dan isi kandungan Al-Qur’an, maka penulis membatasi pembatasan dan
merumuskan masalah sebagai berikut :
1.
Apa
keberkahan yang terdapat dalam Al-Qur’an ?
2.
Apa
yang dimaksud dengan berkah ?
3.
Apa
mu’jizat yang terdapat dalam Al-Qur’an ?
C.
Tujuan Penulisan
Penulis
memilih judul ini dengan tujuan sebagai berikut :
1.
1
|
2.
Mengetahui
arti atau definisi kata berkah
3.
Meningkatkan
kepercayaan terhadap mu’jizat Al-Qur’an
4.
Menambah
wawasan dan pengetahuan di bidang ilmiah dan melatih diri agar terbiasa menulis
karya ilmiah untuk masa yang akan dating.
D.
Teknik Penulisan
Adapun
metode penulisan yang digunakan dalam karya tulis ini adalah metode deskriptif
analis atau pemaparan, agar mudah pembaca memahaminya dan untuk mempermudah
penulis memaparkannya.
E.
Sistematika Penulisan
Karya
tulis yang di tulis oleh penulis terdiri dari empat bab agar penulis mudah
memaparkan pemahaman dan pembaca mudah untuk mencermati dan memahami karya
tulis ini. Adapun karya tulis ini terdiri dari beberapa bab yaitu sebagai
berikut :
BAB I : PENDAHULUAN
Bab ini
memaparkan tentang latar belakang, pembatasan dan perumusan masalah, tujuan
penulisan, metode penulisan dan sistematika penulisan.
BAB II : AL-QUR’AN SUCI YANG
PENUH BERKAH
Bab ini adalah
awal pembahasan, pembahasan yang pertama adalah mengenai definisi atau
pengertian Al-Qur’an, pendapat-pendapat mengenai istilah berkah menurut Al-Qur’an
dan hadits dan mu’jizat yang terdapat dalam Al-Qur’an.
BAB III : AL-QUR’AN MENJADIKAN HIDUP LEBIH
BERKAH
Bab ini
memaparkan dan menjelaskan makna tentang Al-Qur’an kitab yang membawa
kebenaran, Al-Qur’an sebagai pembeda dan petunjuk, Al-Qur’an sebagai cahaya
kehidupan, dan Al-Qur’an merupakan penyembuh hati.
BAB IV : PENUTUP
Bab ini
merupakan bab paling akhir, didalamnya terdapat kesimpulan dan saran-saran
untuk pembaca sebagai sugesti meningkatkan pengetahuan dan penghayatan terhadap
Al-Qur’an.
DAFTAR PUSTAKA
BAB
II
AL-QUR’AN
KITAB SUCI YANG PENUH BERKAH
A.
Definisi dan Pengertian Al-Qur’an
Al-Qur’an
adalah kalamullah yang diturunkan kepada Nabi terakhir Muhammad SAW,
melalui perantara malaikat jibril.[1]
Al-Qur’an
adalah kitab suci umat islam, ia dapat disebut atau dinamakan Al-Qur’an secara harfi
berarti bacaan atau himpunan karena merupakan kitab yang wajib dibaca dan
dipelajari dan merupakan himpunan dari ajaran-ajaran wahyu yang terbaik.[2]
Sebagai
kitab suci Al-Qur’an adalah kitab yang berisi petunjuk tentang berbagai aspek
kehidupan manusia, baik secara individu maupun kolektif dan pesan-pesan ilahi
untuk umat manusia yang disampaikan melalui Nabi Muhammad SAW yang didalamnya
terdapat berbagai ilmu untuk kebahagiaan dunia dan kebahagiaan akhirat.
Kata
Al-Qur’an secara harfiah berasal dari kata qara’a yang berarti
membaca atau mengumpulkan dan secara terminologi, Al-Qur’an berarti kalam
Allah SWT yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW melalui malaikat jibril, sampai
kepada kita secara mutawatir.[3]
وَهَذَا كِتَابٌ أَنزَلْنَاهُ مُبَارَكٌ
فَاتَّبِعُوهُ وَاتَّقُوا لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ (الأنعام : 155 )
“Dan
Al-Qur’an ini adalah kitab yang kami turunkan yang diberkahi maka ikutilah dan
bertaqwalah agar kamu diberi rahmat” (Qs. Al-An’am : 155)
4
|
Al-Qayyim berpendapat bahwa Al-Qur’an lebih berhak
menyandang nama “mubarak” yang artinya sesuatu yang di berkahi dari pada
nama lain, karena berlimpahnya kebaikan dan manfaatnya serta aspek-aspek
keberkahan didalamnya.[4]
Syeikh Manna Khail Qathan dalam bukunya mabahits fi
ulumil qur’an menjelaskan bahwa istilah qur’an berasal dari kata qara’a
yang berarti mengumpulkan atau mengimpun, kata Al-Qur’an juga mengandung arti
yang sama dengan qira’ah yaitu menghimpun huruf atau kata yang satu
dengan lain dalam suatu ucapan yang tersusun rapi.[5]
Menurut Gibbon, seorang ahli sejarah ternama berkata : Al-Qur’an
adalah satu kitab agama, kitab kemajuan, kenegaraan, persaudaraan,kemahkamahan
dan undang-undang ketentraman dalam islam dan Al-Qur’an juga mengandung segala
perkara mulai dari masalah ibadah sampai pekerjaan sehari-hari, dari masalah
dunia sampai masalah akhirat semuanya telah diterangkan secara jelas dalam Al-Qur’an.[6]
Dari pendapat-pendapat di atas, dapat di simpulkan bahwa Al-Qur’an
adalah kitab suci umat islam yang diturunkan melalui Nabi Muhammad yang
memiliki banyak keberkahan dan manfaat, dan Al-Qur’an bukan hanya untuk dibaca
melainkan di pelajari dan di amalkan dan Al-Qur’an juga berisi tentang
masalah-masalah yang ada didunia dan akhirat serta larangan-larangan dan
kewajiban-kewajiban yang harus diketahui oleh umat muslim agar hidup kita
bahagia dunia dan akhirat.
B.
Istilah Berkah Menurut Al-Qur’an dan Hadits
a. Istilah berkah menurut Al-Qur’an
Istilah berkah atau barakah hanya di jumpai dalam Al-Qur’an, kata berkah
hampir dapat di simpulkan menjadi tiga pengertian bahwa berkah atau barakah
mengandung makna tetap dan langgengnya kebaikan serta banyak dan bertambahnya
kebaikan.
Berkah yang bermakna tetap dan langgengnya kebaikan sejalan dengan surat Al-A’raaf ayat 96 :
لَفَتَحْنَا عَلَيْهِم بَرَكَاتٍ مِّنَ
السَّمَآءِ وَاْلأَرْضِ (الأعراف : 96 )
“Pastilah
kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi”. (Qs.
Al-A’raaf : 96)
Ar- Raqhib Al-Ashfahani menafsirkan ayat tersebut sebagai berikut “Al-Barakah
adalah tetapnya kebaikan Ilahi pada sesuatu disebut demikian karena melakatnya
kebaikan didalamnya seperti hal air yang selalu berada didalam sumur”.
Sementara itu mufasirin lainnya yaitu Al-Khazin ra, memaknai ayat tersebut
demikian “Keberkahan langit yang dimaksudkan dalam ayat tersebut adalah
turunnya air hujan, sedangkan keberkahan bumi adalah tanaman yang memberikan
buah-buahan, serta segala yang terdapat didalamnya berupa kebaikan”.[7]
Lafat barakah juga tersebut dalam Al-Qur’an dengan ayat berikut :
#x»ydur Öø.Ï î8u$t6B çm»oYø9tRr&
“Dan
Al-Qur’an ini adalah suatu kitab (peringatan) yang mempunyai berkah yang telah
kami turunkan”.(Qs. Al-Anbiya :50)
Menurut As-Syingithi bahwa karena di dalam Al-Qur’an menyimpan banyak keberkahan
yang artinya menyimpan kebaikan di dunia dan akhirat.
Jadi dapat disimpulkan bahwa berkah atau barakah adalah segala sesuatu yang
menyimpan suatu kebaikan untuk berkah karena hujan menyimpan suatu kebaikan
untuk sebuah tanaman, karena tanaman dapat tumbuh dikarenakan keberkahan dari
langit salah satunya berupa hujan atau air.
b. Istilah berkah menurut hadits
Istilah berkah dan istilah-istilah yang mendekatinya banyak disebut dalam
hadits Nabi Muhammad SAW. Bahkan jumlahnya mencapai ratusan, seperti kata “Tabaaroka”
yang bermaksud mengagungkan dan menyucikan Allah SWT.
Lafat berkah atau barakah didalam hadits Rasulullah SAW memiliki makna yang
sama dengan yang terdapat didalam Al-Qur’an yakni bermakna tetap dan
berkesinambungan kebaikan atau melimpah dan bertambahnya kebaikan atau bisa
juga kedua-duanya secara bersama.
وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَلِ مُحَمَّدٍ
“Dan
berkahilah Muhammad dan keluarganya”.
Ibnu Atsir berpendapat bahwa maksud kalimat “wabarik” atas penggalan hadits
tersebut mengandung makna tetapkanlah dan langgengkanlah kehormatan dan
kemuliaan yang telah engkau berikan kepada Nabi Muhammad SAW.
Al-Qayyim mengatakan bahwa penggalan hadits tersebut merupakan doa yang meliputi
kebaikan yang diberikan kepada keluarga Nabi Ibrahim, tetap serta berlipat
ganda dan kebaikannya selalu bertambah.[8]
Dan masing-masing
pendapat dan pengertian di atas, maka dapat di sederhanakan bahwa yang dimaksud
barakah atau berkah adalah keadaan terhadap sesuatu yang tetap atau tidak
berkurang dan tidak bertambah kebaikannya. Jika rizki itu berkah maka tidak
akan berkurang melainkan terus bertambah secara langgeng dan di dalamnya
menyimpan kebaikan.
C.
Mu’jizat Al-Qur’an
Al-Qur’an
adalah mu’jizat yang terbesar yang dimiliki oleh Rasulullah SAW, Al-Qur’an
sebagai dasar dalam menyampaikan kebenaran kenabian dan ajarannya.
Mu’jizat
secara etimologis berarti melemahkan, sedangkan menurut terminologi ialah suatu
yang luar biasa yang di perlihatkan Allah SWT melalui Nabi dan Rasul-Nya
sebagai bukti atas kebenaran pengakuan kenabiannya dan kerasululannya.
Sesungguhnya
Al-Qur’an itu mu’jizat dari segi lafat, susunan, kalimatnya, sastranya, isyarat
lafat terhadap makna, makna-makna yang menjadi perintah dan berita tentang
Allah SWT, nama-nama dan sifat-sifat-Nya, malaikat-malaikat-Nya dan lain
sebagainya, meskipun bangsa Arab saat itu banyak yang menjadi ahli bahasa dan
sastra, namun tidak mampu menandingi keindahan kalimat Al-Qur’an.
عَنْ أَبِى
هُرَيْرَةَ قَالَ : قَالَ النَّبِيُّ : مَامِنَ اْلأَ نْبِيَاءِ نَبِيُّ إِلاَّ أُعْطِيَ
مَامِثْلُهُ آمَنَ عَلَيْهِ الْبَشَرُ وَإِنَّهَا كاَنَ اَّلذِى أُوْتِيْتُ وَحْيًا
أَوْ حَاهُ اللهُ إِلَيَّ فَأَرْجُوْهُ اَنْ أَكُوْنَ أَكْثَرَ هُمْ تَابِعًا يَوْمَ
اْلقِيَامَةِ .
Dari Abu hurairah ra, bahwasannya Nabi SAW bersabda :
“Tak seorang pun Nabi yang diutus kecuali telah diberi sesuatu yang
semisalnya umat manusia beriman, hanya saja yang diberikan kepadaku adalah
wahyu yang telah Allah SWT wahyukan kepadaku, maka aku berharap semoga aku
menjadi nabi yang paling banyak pengikutnya pada hari kiamat”. (HR. Bukhari)
Tentang hadits ini, Ibnu Katsir berpendapat, “Didalam
riwayat tersebut disebutkan keutamaan yang besar bagi Al-Qur’an dibandingkan
dengan semua mu’jizat yang diberikan kepada setiap Nabi dan kitab yang telah
diturunkan”.
Adapun makan
hadits itu adalah tidak seorang Nabi pun melainkan mereka di beri mu’jizat yang
di imani oleh umat manusia, yang menjadi dasar atas kebenaran yang disampaikan
dan dia di ikuti oleh umatnya, kemudian ketika para Nabi telah meninggal dunia
tidak ada satu pun mu’jizat mereka yang tersisa, kecuali yang dikisahkan oleh
para pengikutnya berdasarkan apa yang mereka saksikan pada masanya.[9]
Adapun Rasul yang menjadi penutup risalah yaitu Muhammad
SAW, seluruh yang Allah SWT berikan kepadanya adalah wahyu yang berasal darinya
yang di sampaikan kepada umat manusia secara mutawatir.
Maka kemu’jizatan Al-Qur’an antara lain :
1. Bahasanya yang indah yang tak ada seorang pun dapat menandinginya
2. Berisi tentang Allah SWT, nama-nama, sifat-sifat dan makhluknya
3. Sebagai undang-undang yang sempurna melebihi undang-undang yang dibuat oleh
manusia.
4. Memenuhi kebutuhan manusia
5. Membahas ilmu agama dan umum
6. Menggambarkan hal-hal yang tidak diketahui oleh manusia
7. Tidak bertentangan dengan pengetahuan umum yang telah dipastikan
kebenarannya.
BAB III
AL-QURA’AN MENJADIKAN HIDUP LEBIH BERKAH
A.
Al-Qur’an Kitab Yang Membawa Kebenaran
Kita di sarankan untuk mencari berkah dari Al-Qur’an,
karena Al-Qur’an adalah wahyu ilahi yang di dalamnya terdapat banyak kebaikan,
dan Al-Qur’an merupakan kitab yang membawa kebenaran. Dengan mempelajari Al-Qur’an kita bisa menempuh jalan kebenaran
dan yang pasti jalan kebenaran itu tentu memberkahi kehidupan kita di dunia dan akhirat.[10]
Dalam Al-Qur’an surat Al-Isra ayat 103 dikatakan :
Èd,ptø:$$Î/ur çm»oYø9tRr& Èd,ptø:$$Î/ur tAttR
“Dan kami menurunkan Al-Qur’an dengan sebenar-benarnya
dan Al-Qur’an itu telah dengan membawa kebenaran”.
10
|
ö@è% $pkr'¯»t â¨$¨Z9$# ôs% ãNà2uä!%y` ,ysø9$# `ÏB öNä3În/§ ( Ç`yJsù 3ytF÷d$# $yJ¯RÎ*sù ÏtGöku ¾ÏmÅ¡øÿuZÏ9 ( `tBur ¨@|Ê $yJ¯RÎ*sù @ÅÒt $pkön=tæ ( !$tBur O$tRr& Nä3øn=tæ 9@Å2uqÎ/ ÇÊÉÑÈ
“Katakanlah
wahai manusia, sesungguhnya telah datang kepada kalian kebenaran (Al-Qur’an)
dari Rabb-Nya, sebab itu, barang siapa yang mendapat petunjuk maka sesungguhnya
petunjuk itu untuk kebaikan dirinya sendiri. Dan barang siapa yang sesat maka
sesungguhnya kesesatan itu mencelakakan dirinya sendiri, dan aku bukanlah
seorang penjaga terhadap dirimu”.(Qs. Yunus : 108)
Dalam Al-Qur’an banyak ditemukan berita-berita yang
menggembirakan atau menyenangkan hati yang membuat orang tertarik kepada
kebenaran. Demikian pula berita yang sangat memilukan hak yang membuat orang
membenci kejahatan dan kemaksiatan dan balasan bagi orang-orang yang berbuat
kebaikan dan keburukan.[11]
Jadi dapat disimpulkan bahwa Al-Qur’an bukanlah rekayasa,
Al-Qur’an adalah suara Allah SWT yang mempunyai keberkahan yang dapat membuat
hidup orang yang mempelajari, mengamalkan dan menyakini lebih baik, karena Al-Qur’an
adalah suatu kebenaran yang datangnya dari Allah SWT melalui Nabi Muhammad SAW.
B.
Al-Qur’an Sebagai Pembeda dan Petunjuk
Al-Qur’an menyimpan dan memberikan keberkahan kepada orang
yang mempelajarinya, salah satu alasannya adalah karena Al-Qur’an sebagai
pembeda antara yang haq dan yang bathil, antara yang halal dan yang haram,
orang yang memahami dan mempelajari Al-Qur’an mengetahui tentang sesuatu yang
bathil dan sesuatu yang haram itu merugikan dan mencelakakan dirinya sendiri
dan Al-Qur’an juga menunjukkan tentang nilai-nilai kebenaran dan sesuatu yang
halal, yang mana hal tersebut jika di terapkan akan menguntungkan bagi dirinya
sendiri.[12]
Al-Qur’an sebagai pembeda di jelaskan dalam ayat 185 surat Al- Baqarah sebagai berikut :
ãöky tb$ÒtBu üÏ%©!$# tAÌRé& ÏmÏù ãb#uäöà)ø9$# Wèd Ĩ$¨Y=Ïj9 ;M»oYÉit/ur z`ÏiB 3yßgø9$# Èb$s%öàÿø9$#ur 4
`yJsù yÍky ãNä3YÏB tök¤¶9$# çmôJÝÁuù=sù (
`tBur tb$2 $³ÒÍsD ÷rr& 4n?tã 9xÿy ×o£Ïèsù ô`ÏiB BQ$r& tyzé& 3
ßÌã ª!$# ãNà6Î/ tó¡ãø9$# wur ßÌã ãNà6Î/ uô£ãèø9$# (#qè=ÏJò6çGÏ9ur no£Ïèø9$# (#rçÉi9x6çGÏ9ur ©!$# 4n?tã $tB öNä31yyd öNà6¯=yès9ur crãä3ô±n@ ÇÊÑÎÈ
“(Beberapa
hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya di turunkan
(permulaan) Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan
mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil). karena
itu, Barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan
itu, Maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu, dan Barangsiapa sakit atau
dalam perjalanan (lalu ia berbuka), Maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak
hari yang di tinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki
kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. dan hendaklah kamu
mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya
yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur”.(Qs. Al-Baqarah : 185)
Dalan surat lain dikatakan :
x8u$t6s? Ï%©!$# tA¨tR tb$s%öàÿø9$# 4n?tã ¾ÍnÏö6tã tbqä3uÏ9 úüÏJn=»yèù=Ï9 #·ÉtR ÇÊÈ
“Maha suci Allah SWT yang telah
menurunkan Al-Furqon (pembeda) kepada hamba-Nya, agar ia menjadi pemberi
peringatan kepada seluruh alam”.(Qs. Al-Furqon : 1)
Selain itu, Al-Qur’an juga merupakan sebuah
petunjuk yang mengantarkan kepada semua kebaikan dan kebahagiaan dunia dan
akhirat, karena inilah Al-Qur’an menyimpan berkah dan memberkahi kepada orang
yang mau mempelajari dan memahami Al-Qur’an dan isinya.
Al-Qur’an sebagai petunjuk di jelaskan dalam surat At-Taubah ayat 33 yang berbunyi :
uqèd üÏ%©!$# @yör& ¼ã&s!qßu 3yßgø9$$Î/ ÈûïÏur Èd,ysø9$# ¼çntÎgôàãÏ9 n?tã Ç`Ïe$!$# ¾Ï&Íj#à2 öqs9ur onÌ2 cqä.Îô³ßJø9$# ÇÌÌÈ
“Dialah yang telah mengutus
Rasul-Nya dengan membawa petunjuk (Al-Qur’an) dan agama yang benar untuk
menangkapkannya atas segala agama, walaupun orang-orang musyrik tidak
menyukai”.(Qs. At-Taubah : 33)
Dapat di simpulkan bahwa Al-Qur’an sebagai
pembeda antara yang benar dengan yang salah, antara yang haq dan yang batil,
antara kesesatan dengan petunjuk dan antara jalan yang menuju keselamatan
dengan jalan menuju kesengsaraan. Dan sebagai petunjuk bagi kita umum menuju
kepada kebaikan agar kita tidak tersesat dan terjerumus kepada hal-hal yang
dapat merugikan diri kita sendiri.
Barang siapa yang berpegang teguh mempelajari
dan mengamalkan Al-Qur’an, maka ia akan mendapat petunjuk dan rahmatnya berupa
mengetahui pembedaan antara yang baik dan yang buruk untuk dirinya sendiri,
karena petunjuk dan rahmat merupakan keberkahan yang agung yang tidak semua
orang mendapatkannya, kecuali mereka yang telah bersungguh-sungguh mempelajari
dan mengamalkan Al-Qur’an.
C.
Al-Qur’an
Sebagai Cahaya Kehidupan
Al-Qur’an adalah cahaya dalam kehidupan
manusia, sehingga ia dapat berjalan dengan lentera yang dapat menyelamatkannya dari jurang kebinasaan.
Allah SWT berfirman dalam surat Al-An‘aam ayat 122 :
`tBurr& tb%x. $\GøtB çm»oY÷uômr'sù $oYù=yèy_ur ¼çms9 #YqçR ÓÅ´ôJt ¾ÏmÎ/ Îû Ĩ$¨Y9$# `yJx. ¼ã&é#sW¨B Îû ÏM»yJè=à9$# }§øs9 8lÍ$s¿2 $pk÷]ÏiB
“Dan apakah orang-orang yang sudah mati hatinya kemudian
kami hidupkan ia dan kami berikan kepadanya cahaya yang terang yang dengan cahaya itu dia
dapat berjalan di tengah-tengah masyarakat manusia. Serupa dengan orang yang
keadaannya berada dalam gelap gulita yang sama sekali tidak dapat keluar
darinya”.(Qs. Al-An‘am : 122)
Ibnu Qayyim berkata, “Allah SWT mengumpulkan untuknya
cahaya dan kehidupan sebagaimana mengumpulkan untuk orang yang berpaling dari
kitabnya, kematian dan kegelapan”,
Ibnu Abbas dan seluruh ahli tafsir berkata, “Sebelumnya ia kafir dan
sesat, lalu kami memberinya hidayah”.[13]
Adapun firman Allah SWT yang berbunyi : “Dan kami
berikan kepadanya cahaya yang terang yang dengan cahaya itu dapat ia berjalan
di tengah-tengah masyarakat manusia”. Mengandung beberapa perkara, yaitu
sebagai berikut :
1. Ia berjalan di tengah-tengah masyarakat manusia dengan cahaya, sementara
mereka berada dalam kegelapan. Perumpamaan dirinya dengan mereka seperti suatu
kaum yang berada dalam kegelapan malam sehingga mereka tersesat dan tidak
mendapatkan jalan yang benar. Adapun yang lainnya mempunyai cahaya yang ia berjalan
dengannya dijalan yang benar dan ia dapat melihat jalan tersebut, serta melihat
apa yang harus dijauhi didalamnya.
2. Ia berjalan di tengah-tengah mereka dengan cahaya dan mereka mengambil
cahaya darinya karena mereka sangat membutuhkan cahaya.
3. Ia berjalan dengan cahayanya pada hari kiamat di atas shirath ketika ahli
syirik dan munafik berada didalam kegelapan syirik dan kemunafikan mereka.[14]
Dapat di simpulkan bahwa Al-Qur’an adalah sumber cahaya
bagi kehidupan kita didunia dan diakhirat. Di dunia cahaya dari keberkahan Al-Qur’an
dapat membantu kita agar hidup kita selalu tentram, damai dan tidak terjerumus
kepada jurang kegelapan seperti syirik dan kemunafikan. Sedangkan di akhirat
cahaya dari keberkahan Al-Qur’an akan membantu kita untuk melihat dan berjalan
menuju jalan yang telah Allah SWT arahkan, karena di akhirat tidak ada satu
titik pun cahaya yang dapat menerangi jalan kita kecuali mereka yang senantiasa
mengamalkan dan mempelajari Al-Qur’an, dengan itu hidup kita akan selalu terang
dan kita tidak akan terjerumus kepada hal-hal yang telah Allah SWT larang dan
haramkan.
D.
Al-Qur’an Sebagai Penyembuh Hati
Al-Qayyim berkata : seluruh penyakit hati bermuara pada
syubhat dan syahwat dan Al-Qur’an merupakan obat bagi kedua jenis penyakit
tersebut, karena di dalam Al-Qur’an terdapat berbagai penjelasan dan bukti
nyata yang membedakan kebenaran dan kebathilan, sehingga hilanglah
penyakit-penyakit syubhat yang merusak ilmu, imajinasi dan persepsi, sehingga
hati bisa melihat segala sesuatu sebagaimana hakikat yang sebenarnya.[15]
Allah SWT telah mengabarkan bahwa Al-Qur’an adalah obat
atau penyembuh dalam firmannya :
$pkr'¯»t â¨$¨Z9$# ôs% Nä3ø?uä!$y_ ×psàÏãöq¨B `ÏiB öNà6În/§ Öä!$xÿÏ©ur $yJÏj9 Îû ÍrßÁ9$# Yèdur ×puH÷quur tûüÏYÏB÷sßJù=Ïj9 ÇÎÐÈ
"Hai manusia, Sesungguhnya telah datang
kepadamu pelajaran dari Tuhanmu dan penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang
berada) dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman". )Qs. Yunus : 57)
Syaikh Abdurahman bin Nashir As-Sadi berkata : “Al-Qur’an
adalah penyembuh apa yang ada di dada dari penyakit syahwat yang mencegahnya
untuk tunduk kepada syari’at dan dari penyakit subhat yang merusak ilmu
keyakinan”. Hal tersebut di karenakan dalam Al-Qur’an sesungguhnya terdapat
pelajaran, janji dan ancaman yang mengharuskan ia berharap dan takut.[16]
Al-Qur’an adalah obat yang hakiki dari semua penyakit
syubhat dan keraguan, tetapi hal tersebut tergantung kepada pemahaman dan
pengetahuan tentang apa yang diinginkan oleh Al-Qur’an.
Al-Qur’an berfungsi sebagai obat bagi penyakit syahwat,
karena Al-Qur’an mengandung hikmah, nasehat yang baik berupa anjuran dan
ancaman, ajakan zuhud terhadap kenikmatan dunia dan senang terhadap akhirat, oleh karena itu, apabila hati yang
selamat itu melihatnya, maka ia akan bergerak menuju apa yang bermanfaat
didunia dan akhiratnya dan menjauhi segala perkara yang berbahaya untuknya
sehingga ia menyukai petunjuk dan membenci kesesatan.
Al-Qur’an akan menghilangkan penyakit-penyakit yang
menimbulkan keinginan-keinginan yang rusak, sehingga menjadi lurus dan
keinginannya pun menjadi lurus., ia kembali kepada fitrahnya, sehingga menjadi
lurus perbuatannya. Hati pun mendapatkan gizi dan iman dan Al-Qur’an yang dapat
mensucikan dan menguatkannya, memberikan kegembiraan, kebahagiaan dan semangat
serta mengkokohkan kerjaannya.[17]
Penyembuh Al-Qur’an diarahkan terhadap hati karena hati
adalah sumber segala perbuatan manusia, baik perbuatan jahat ataupun perbuatan
baik, penyakit yang sedang menimpa pribadi dan masyarakat berasal dari hati
yang sakit, penyakit hati itu adalah kesombongan, keangkuhan, mencintai dunia
dan jabatan yang sangat berlebihan, riya, dengki dan lain sebagainya.
Penyakit-penyakit inilah yang melahirkan perampokan,
korupsi dan lain sebagainya, karena itu juga Al-Qur’an di turunkan untuk
mengobati penyakit-penyakit tersebut.
Untuk mengobati penyakit-penyakit itu tidak hanya sekedar
membaca, memanjang dan melantunkan keindahan-keindahan Al-Qur’an, akan tetapi
perlu di pahami, di amalkan dan di jadikan pedoman dalam setiap langkah dalam
kehidupan yang di buat baik oleh pribadi maupun pemerintah atau organisasi.
Bukan hanya itu, dalam hal menyembuhkan atau mengobati
penyakit-penyakit dalam hati tersebut agar dapat melahirkan jiwa dan hati yang
baik dan menimbulkan akhlak yang baik pula, Al-Qur’an dengan keberkahannya
membimbing manusia melakukan beberapa hal di antaranya menuntut ilmu.
Banyak ayat Al-Qur’an yang mendorong manusia agar
menuntut ilmu agar dapat membentuk jiwa manusia menjadi sehat, baik secara
empiris maupun penalaran, bahkan Al-Qur’an memberikan penghargaan kepada
orang-orang yang berilmu.
Akan tetapi, belajar dalam Al-Qur’an bukanlah semata-mata
penguasaan kognitif, yang terpenting bagi Al-Qur’an arti kesadaran diri sebagai
makhluk Allah SWT atau bersikap sesuai dengan kebenaran dan keadilan.
Ilmu yang diperoleh dapat mempengaruhi keadaan jiwa atau
mengubahnya, karena begitu eratnya kaitan ilmu dengan prilaku, maka Al-Qur’an
menafikan kesamaan orang yang berilmu dengan orang yang tidak berilmu, maka
pengetahuan atau ilmu yang baik dapat melahirkan prilaku yang baik jika hati
kita pun baik.
Dan yang digunakan Al-Qur’an agar membuat hati manusia
sehat adalah beribadah, banyak bentuk ibadah dalam islam di antaranya shalat,
puasa dan dzikir, ibadah-ibadah ini di maksudkan bukan sekedar formalitas dan
ritual rutinitas, tapi lebih jauh dari itu, Al-Qur’an menginginkan agar ibadah
tersebut dapat berkesan dalam jiwa dan melahirkan prilaku mulia, itulah
sebabnya perintah melaksanakan ibadah selalu beriringan dengan harapan kamu
menjadi orang bertaqwa (Qs. Al-Baqarah :
21), dengan itu kita akan merasakan keberkahan-keberkahan yang terkandung dalam
Al_Qur’an di kehidupan kita.
Di
dalam Al-Qur’an juga terdapat nasehat-nasehat dan cara agar kita dapat menjaga
indra kita dari penyakit-penyakit hati, di dalam Al-Qur’an banyak menjelaskan
tentang keuntungan dan faedah jika kita mentaati nasehat-nasehat yang ada pada Al-Qur’an
agar kita terhindar dari penyakit subhat dan syahwat.
Tidak
ada bumi ini kitab seperti Al-Qur’an yang mengandung keterangan dan ayat-ayat
mengenai permasalahan yang sangat mulia seperti tauhid, penetapan sifat, tata
aturan dan hukum yang bertujuan untuk membuat hati manusia jauh dari penyakit
hati. Al-Qur’an telah mencakup semua itu dari sisi yang paling sempurna dan
paling dekat kepada akal, serta paling fasih penjelasannya.
Ibnu
selain Al-Qur’an bisa jadi menjelaskan perkara-perkara yang benar, namun tidak
bermanfaat untuk hati atau ilmu yang shahih, namun harus melalui jalan yang
terjal untuk meraihnya akan tetapi manfaat yang di peroleh darinya hanyalah
sedikit.
BAB IV
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Al-Qur’an memiliki banyak keberkahan, karena itu dapat
disimpulkan bahwa Al-Qur’an dapat dijadikan pegangan sebagai petunjuk hidup
agar kita tidak tersesat ke jalan yang akan membawa kita kepada kegelapan
karena Al-Qur’an merupakan sumber cahaya bagi kehidupan dunia dan akhirat kita.
Di dunia, cahaya dari keberkahan Al-Qur’an dapat membantu kita agar hidup kita
selalu tentram, damai dan tidak terjerumus kepada jurang kegelapan dunia,
sedangkan diakhirat cahaya dari keberkahan Al-Qur’an dapat membantu kita untuk
melihat dan berjalan menuju arah yang telah Allah SWT arahkan.
Selain keberkahan tersebut, Al-Qur’an juga sebagai
pembeda antara yang benar dan yang salah, antara yang haq dan yang bathil,
antara kesesatan dan petunjuk dan antara arah jalan menuju keselamatan dan arah
jalan menuju kesengsaraan, Al-Qur’an juga merupakan petunjuk menuju jalan yang
benar, yang telah Allah SWT ridhoi agar kita tidak tersesat.
Dan salah satu keberkahan Al-Qur’an yang lainnya adalah
bahwa Al-Qur’an dapat dijadikan obat penawar bagi penyakit hati yang dapat
merusak akidah dan keyakinan kita seperti kesombongan, kedengkian dan lain
sebagainya. Karena Al-Qur’an mengandung hikmah, nasihat yang baik berupa
anjuran dan ancaman, apabila hati yang selamat itu melihatnya, maka ia akan
bergerak menuju apa yang bermanfaat dan menjauhi apa yang tidak bermanfaat.
19
|
B.
Saran-saran
Hidup berkah adalah dambaan setiap orang, karena
keberkahan dari Allah SWT adalah sesuatu yang sangat berharga. Di dalam hidup
berkah mencakup rizqi yang berkah, umur yang berkah, kesehatan yang berkah dan
sebagainya. Hidup menjadi damai dan tentram lahir bathin jika kita bergelimang
keberkahan.
Salah satu cara agar kita mendapatkan keberkahan tersebut
adalah dengan cara berpedoman, mengamalkan dan menyakini Al-Qur’an.
Sebagai umat muslim yang berpegang teguh dengan Al-Qur’an,
janganlah sekali-kali kita meremehkan dan mengabaikan kitab suci kita sendiri,
se-sibuk apapun kita, cobalah kita luangkan waktu sedikit untuk kita membaca
dan mempelajari Al-Qur’an agar kita bisa mendapatkan dan merasakan keberkahan
dari Al-Qur’an itu.
Marilah kita selaku umat muslim, kita menuju ke jalan
kebaikan dan mencari keberkahan untuk hidup kita dengan memahami apa keberkahan
yang terdapat dalam Al-Qur’an yang merupakan kitab suci kita.
DAFTAR PUSTAKA
Dahlan. Aziz. Abdul., 1987. Studi Agama
Islam. Jakarta : PT. Saku Jaya
Al-Qalami. Fajar. Abu. 2011. Agar Hidup Bergelimang Berkah.
Mitrapress, Cet. Ke-1
Salam. Badru. Yahya. Abu.
2013. Hakikat Dan Fadhilah Tadabbur Al-Qur’an. Naashirasunnah
Yusuf. Kadar. Muhammad. 2010. Studi Al-Qur’an. Jakarta : Amzah, Cet.
Ke-1
Syamsudin. 1997. Pendidikan Agama Islam. Bandung : Tiga Mutiara